Saat ini, berdasarkan data dari McKinsey dan Deloitte, dunia agensi kreatif dan pemasaran global tengah mengalami disrupsi struktural terbesar sepanjang sejarah akibat integrasi Artificial Intelligence (AI). Ini bukan lagi soal apakah AI akan mengubah cara kerja industri kreatif, melainkan seberapa cepat perubahan itu sudah terjadi di depan mata kita.

Dua angka berikut menggambarkan seberapa besar pergeseran ini:

63%Peningkatan kecepatan produksi konten dengan bantuan AI (McKinsey)
92%Perusahaan yang sudah mengadopsi AI dalam workflow mereka (Deloitte)

Dua Sisi Disrupsi: Kapasitas SDM dan Kecepatan Kerja

Setidaknya ada dua peran yang membuat dunia kreatif cukup terdisrupsi. Pertama, kapasitas SDM di dalam agensi. Beberapa agensi sudah mulai mengurangi peran yang sifatnya hanya menjalankan daily task berulang, karena tugas semacam itu kini bisa diotomasi oleh AI. Kedua, kecepatan proses kerja itu sendiri. Pekerjaan yang dulu bisa memakan waktu satu sampai dua hari, kini dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam.

Kualifikasi SDM Berubah: Creative Thinking Jadi Kunci

Persaingan SDM di industri kreatif kini semakin sulit karena kualifikasi kemampuan creative thinking meningkat drastis. Orang yang tidak memiliki kemampuan berpikir kreatif akan semakin kesulitan mendapatkan pekerjaan, apalagi jika hanya mengandalkan bertanya kepada AI tanpa membawa arah, sudut pandang, atau ide orisinal apa pun ke dalam prosesnya. AI mempercepat eksekusi, tapi arah dan keputusan kreatif tetap membutuhkan manusia yang tahu apa yang sedang dicari.

Tim yang Lebih Ramping, Hasil yang Tidak Berkurang

Pergeseran ini juga mengubah cara tim disusun. Dahulu, satu tim proyek kreatif biasanya membutuhkan sekitar lima sampai delapan orang. Kini, dengan bantuan AI, tim yang sama bisa dirampingkan menjadi hanya dua orang tanpa mengorbankan kualitas maupun kecepatan output.

Bagi kami di Roku Studio, perubahan ini bukan ancaman, melainkan alasan untuk semakin serius menjaga kualitas berpikir kreatif di dalam tim. AI adalah alat yang mempercepat eksekusi, tapi arah strategi, positioning, dan keputusan kreatif yang benar-benar relevan bagi sebuah brand tetap lahir dari manusia yang memahami konteks bisnisnya secara utuh.

Ini juga alasan mengapa Roku Studio menyebut diri sebagai anti agency — kami memilih tetap ramping dan strategis, bukan sekadar mengejar output sebanyak-banyaknya.

Bukti Nyata dari Agensi dan Firma Multinasional

Angka rata rata di atas bukan sekadar proyeksi. Beberapa agensi periklanan dan firma konsultan multinasional sudah membuktikannya lewat perampingan tim yang nyata sepanjang 2025.

9.389Karyawan WPP berkurang sepanjang 2025, dari 108.044 jadi 98.655 (WPP Elevate28)
8.200Posisi dipangkas Omnicom dan IPG sebelum merger, plus 4.000 PHK tambahan pasca akuisisi (Omnicom, Axios)
14 → 2Jumlah orang per tim di McKinsey yang kini digantikan 2 sampai 3 orang dengan bantuan AI agent (McKinsey)

Sumber: WPP Elevate28, Omnicom melalui Axios, dan McKinsey State of AI 2025.

Di sisi lain, arah paling realistis bukan sepenuhnya AI menggantikan manusia. Menurut riset yang dilaporkan World Economic Forum, meski 41% perusahaan berencana mengurangi tenaga kerja pada 2030 akibat AI, 77% perusahaan besar tetap berencana melakukan reskilling dan upskilling karyawan mereka antara 2025 sampai 2030, alih-alih murni memangkas jumlah tim.

Are Your Skills Still Relevant?

Solusi: 10 Fastest Growing Skills Menurut World Economic Forum untuk 2030

Jika reskilling adalah arah paling realistis, pertanyaannya adalah kemampuan apa yang paling layak diprioritaskan. Menurut World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025, berikut sepuluh skill yang diproyeksikan tumbuh paling cepat kebutuhannya hingga 2030, dan bisa menjadi peta jalan adaptasi bagi agensi maupun pelaku industri kreatif:

  1. AI and big data — kefasihan memanfaatkan AI dan data dalam proses kerja kreatif sehari-hari.
  2. Networks and cybersecurity — menjaga keamanan data klien dan aset digital agensi.
  3. Technological literacy — kecepatan beradaptasi dengan tools dan platform digital baru.
  4. Creative thinking — kemampuan menghasilkan ide dan sudut pandang orisinal, bukan sekadar mengeksekusi prompt AI.
  5. Resilience, flexibility and agility — kemampuan beradaptasi cepat saat alur kerja dan tools terus berubah.
  6. Curiosity and lifelong learning — kemauan untuk terus belajar seiring cepatnya perubahan teknologi.
  7. Talent management — kemampuan mengelola tim yang makin ramping namun makin multi-skilled.
  8. Leadership and social influence — memimpin arah strategi serta meyakinkan klien dan tim internal.
  9. Analytical thinking — mengukur dan menganalisis data performa untuk mengambil keputusan kreatif yang tepat.
  10. Environmental stewardship — kesadaran akan dampak lingkungan dalam praktik bisnis dan kreatif.

Bagi agensi dan pelaku industri kreatif, sepuluh skill ini menggabungkan kefasihan teknologi seperti AI dan data dengan kemampuan manusiawi seperti creative thinking, adaptabilitas, dan kepemimpinan, kombinasi yang paling sulit digantikan oleh AI dan karena itu paling layak menjadi prioritas reskilling.

Pertanyaan Seputar AI dan Disrupsi Industri Kreatif

Belum sepenuhnya. Sebagian besar penurunan tim terjadi pada peran repetitif seperti riset dan administrasi, sementara arah strategi dan keputusan kreatif tetap membutuhkan manusia.

WPP mengurangi sekitar 9.389 karyawan sepanjang 2025, sementara Omnicom dan IPG memangkas 8.200 posisi sebelum merger, dengan rencana 4.000 PHK tambahan pasca akuisisi.

Tidak semua. Sekitar 77% perusahaan besar tetap berencana melakukan reskilling dan upskilling karyawan mereka antara 2025 sampai 2030, bukan murni memangkas jumlah tim.

Creative thinking dan kemampuan mengarahkan AI dengan sudut pandang orisinal, karena AI hanya mempercepat eksekusi, bukan menggantikan arah strategi kreatif.