Smart agency tidak membutuhkan banyak orang untuk melakukan pekerjaan yang sama. AI, otomasi, dan sistem kerja yang baik memungkinkan tim kecil menghasilkan lebih banyak, mengambil keputusan lebih cepat, dan mengurangi pekerjaan koordinasi yang selama ini dianggap normal.

Ini bukan teori yang nyaman. Banyak perusahaan sedang merampingkan organisasi dan melakukan PHK. Tidak semua PHK disebabkan AI, tetapi arah perubahannya jelas: perusahaan sedang mempertanyakan berapa banyak jabatan, lapisan manajemen, dan tenaga eksekusi yang benar-benar masih dibutuhkan.

Masalah agency besar bukan hanya biaya gaji. Semakin banyak orang terlibat, semakin banyak handoff, rapat, revisi, dan persetujuan. Keputusan sederhana menjadi berjenjang. Tanggung jawab tersebar. Kecepatan turun.

Smart agency membalik struktur tersebut. Timnya lebih kecil, tetapi setiap orang memiliki kompetensi yang lebih kuat, cakupan kerja lebih luas, bantuan AI, dan tanggung jawab hasil yang jelas.

Inti Perubahannya

  • Banyak pekerjaan rutin yang sebelumnya membutuhkan beberapa orang kini dapat dibantu AI dan otomasi.
  • Jumlah SDM yang lebih besar tidak otomatis meningkatkan kualitas. Sering kali justru menambah lapisan keputusan.
  • Posisi yang hanya memindahkan informasi, membuat rangkuman, atau meneruskan persetujuan semakin sulit dipertahankan.
  • Orang yang tetap bernilai adalah mereka yang mampu berpikir, mengambil keputusan, menguasai fundamental, dan mengoperasikan AI.
  • Tim kecil hanya bekerja jika otoritas, standar kualitas, dan pemilik keputusan dibuat jelas.
  • Tidak semua PHK terjadi karena AI, tetapi perampingan organisasi adalah fakta yang tidak boleh ditutupi dengan bahasa yang terlalu aman.

Banyak Perusahaan Memang Sedang Mengurangi Jumlah Orang

Pasar kerja sedang menunjukkan pergeseran nyata, bukan sekadar wacana tentang masa depan AI.

Laporan akhir tahun Challenger, Gray & Christmas mencatat 1.206.374 rencana PHK yang diumumkan perusahaan berbasis di Amerika Serikat sepanjang 2025. Angka tersebut naik 58 persen dibandingkan 2024.

AI disebut sebagai alasan untuk 54.836 rencana PHK. Angka itu bukan mayoritas. Kondisi pasar dan ekonomi, penutupan, restrukturisasi, perubahan strategi, dan kebijakan pemerintah juga berperan besar.

Namun, kesimpulan pentingnya bukan bahwa AI menyebabkan semua PHK. Kesimpulannya adalah perusahaan memang sedang merampingkan organisasi, dan AI memperkuat alasan ekonomi untuk meninjau kembali pekerjaan yang repetitif, administratif, dan terlalu bergantung pada koordinasi manual.

Menolak fakta ini tidak melindungi tenaga kerja. Itu hanya menunda adaptasi.

Terlalu Banyak SDM Sering Membuat Keputusan Lebih Lambat

Setiap tambahan orang dapat menambah kapasitas, tetapi juga dapat menambah biaya koordinasi.

Dalam agency yang terlalu berlapis, satu pekerjaan dapat melewati account executive, account manager, project manager, strategist, creative lead, designer, lalu kembali melalui jalur yang sama untuk disetujui. Banyak orang terlihat sibuk, tetapi tidak semuanya menambah nilai pada keputusan akhir.

Gejalanya mudah dikenali:

  • Brief harus dijelaskan berulang kali.
  • Orang yang mengerjakan tidak berbicara langsung dengan orang yang memahami masalah.
  • Keputusan kecil menunggu beberapa persetujuan.
  • Rapat dipakai untuk menyamakan informasi yang seharusnya tersedia di sistem.
  • Revisi muncul karena konteks hilang di setiap handoff.
  • Tidak ada satu orang yang benar-benar bertanggung jawab atas hasil akhir.

Struktur seperti ini membuat headcount tampak produktif di atas kertas, tetapi lambat dalam praktik.

AI dapat merangkum riset, menyusun draft, mengubah format aset, mencatat keputusan, memeriksa konsistensi, dan menyiapkan laporan. Otomasi dapat memindahkan data serta menjalankan tugas berulang. Ketika pekerjaan koordinasi berkurang, kebutuhan terhadap beberapa lapisan perantara juga berkurang.

Itulah alasan smart agency bukan sekadar agency lama yang membeli alat AI. Smart agency merancang ulang siapa yang boleh memutuskan, siapa yang bertanggung jawab, dan pekerjaan apa yang tidak lagi perlu dilakukan manusia.

Satu Orang yang Kuat Dapat Menggantikan Beberapa Peran Lemah

AI tidak membuat semua orang setara. AI justru memperbesar perbedaan antara orang yang memahami pekerjaannya dan orang yang hanya mengikuti proses.

Seorang strategist yang memahami bisnis dapat memakai AI untuk mempercepat riset dan sintesis. Seorang creative lead yang menguasai brand dapat menghasilkan serta menilai lebih banyak arah. Seorang marketer yang memahami funnel dan data dapat mempercepat eksperimen tanpa menunggu tim produksi besar.

Sebaliknya, orang yang tidak memahami fundamental hanya akan menghasilkan lebih banyak keluaran yang tampak rapi tetapi tidak tepat.

Studi Generative AI at Work pada 5.179 agen layanan pelanggan menemukan peningkatan produktivitas rata-rata sekitar 14 persen. Peningkatannya mencapai 34 persen pada pekerja pemula dan berketerampilan lebih rendah. Ini bukan bukti langsung untuk agency, tetapi menunjukkan bahwa AI dapat menyebarkan pola kerja yang sebelumnya hanya dikuasai pekerja yang lebih berpengalaman.

Studi lapangan The Cybernetic Teammate melibatkan 776 profesional Procter & Gamble. Individu yang memakai AI menghasilkan proposal inovasi dengan kualitas yang menyamai tim dua orang tanpa AI dan menyelesaikannya sekitar 16 persen lebih cepat.

Temuan itu tidak berarti satu orang selalu dapat menggantikan dua orang. Namun, temuan tersebut cukup untuk menolak asumsi lama bahwa setiap kenaikan volume harus dijawab dengan penambahan jumlah orang.

Posisi yang Paling Rentan Bukan Selalu Posisi Paling Junior

Pekerjaan yang rentan adalah pekerjaan yang kontribusinya dapat dipadatkan menjadi alur, template, rangkuman, atau penerusan keputusan.

Risikonya mencakup:

  • Eksekusi rutin yang tidak membutuhkan penilaian mendalam.
  • Koordinasi manual yang dapat digantikan sistem bersama.
  • Pelaporan yang hanya mengubah data menjadi presentasi.
  • Lapisan manajemen yang tidak memiliki otoritas keputusan nyata.
  • Produksi volume tinggi tanpa keahlian khusus.
  • Peran yang bergantung pada kepemilikan informasi, bukan kemampuan menghasilkan keputusan.

Sebaliknya, nilai manusia tetap kuat pada perumusan masalah, negosiasi, art direction, penilaian risiko, pemahaman konteks budaya, komunikasi klien, dan keputusan yang konsekuensinya harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, operator AI yang dibutuhkan agency bukan sekadar prompt engineer. Ia harus menjadi profesional yang menguasai bidangnya dan mampu memakai AI untuk memperluas kapasitasnya.

Bentuk Tim Smart Agency

Smart agency tidak membutuhkan organisasi yang gemuk. Untuk banyak agency kecil dan menengah, struktur inti dapat dipadatkan menjadi beberapa pemilik keputusan:

  • Strategy dan client lead: memahami masalah bisnis, memimpin hubungan klien, serta memutuskan prioritas.
  • Brand dan creative lead: menjaga positioning, pesan, konsep, desain, dan standar kreatif.
  • Growth dan content operator: menjalankan distribusi, eksperimen, konten, serta pengukuran.
  • AI operations dan quality owner: membangun workflow, mengelola alat, menjaga data, dan memastikan kualitas. Pada tim kecil, mandat ini dapat dipegang salah satu lead.
  • Jaringan spesialis: legal, produksi, motion, ilustrasi, media buying, riset, atau keahlian industri yang dipanggil ketika dibutuhkan.

Struktur tepatnya akan berbeda. Prinsipnya tetap sama: sedikit pemilik keputusan, sedikit handoff, dan akses cepat ke spesialis ketika risikonya memang membutuhkan mereka.

Perusahaan tetap dapat membutuhkan banyak orang jika volume, cakupan, atau kompleksitasnya tinggi. Yang sudah tidak masuk akal adalah mempertahankan banyak lapisan hanya karena struktur tersebut pernah dianggap normal.

Tim Kecil Tidak Boleh Berarti Orang Bekerja Tanpa Batas

Perampingan yang baik menghapus pekerjaan tidak bernilai. Perampingan yang buruk hanya memindahkan beban tiga orang kepada satu orang.

Sebelum mengurangi tim, agency harus menjawab lima hal:

  1. Pekerjaan apa yang benar-benar hilang karena AI atau otomasi?
  2. Keputusan apa yang kini dapat dibuat lebih dekat dengan pelaksana?
  3. Siapa pemilik akhir untuk strategi, kualitas, data, dan hubungan klien?
  4. Berapa kapasitas realistis setiap orang setelah waktu review dan komunikasi dihitung?
  5. Spesialis apa yang tetap harus tersedia ketika risiko meningkat?

Jika jawaban tersebut tidak jelas, organisasi belum menjadi smart agency. Organisasi itu hanya kekurangan orang.

NIST Generative AI Profile juga menegaskan perlunya pengelolaan risiko seperti informasi keliru, bias, privasi, keamanan, dan kekayaan intelektual. Tim kecil tetap membutuhkan quality gate, terutama untuk pekerjaan yang berdampak besar.

Fundamental Lebih Penting daripada Headcount

AI membuat produksi lebih murah. Karena itu, nilai berpindah dari kemampuan menghasilkan banyak aset menuju kemampuan memilih masalah yang benar, membuat keputusan, dan menjaga standar.

Future of Jobs Report 2025 menempatkan AI dan big data sebagai keterampilan yang tumbuh paling cepat. Pada saat yang sama, analytical thinking tetap menjadi keterampilan inti yang paling banyak dianggap penting.

Pesannya tegas. Agency tidak membutuhkan banyak orang yang hanya bisa mengeksekusi instruksi. Agency membutuhkan lebih sedikit orang yang mampu memahami konteks, memberi arah, memakai AI, dan bertanggung jawab atas hasil.

Roku Studio membahas kebutuhan ini lebih lanjut dalam artikel tentang mengapa perusahaan membutuhkan AI Specialist serta perbedaan antara desainer yang menggunakan AI dan yang tidak.

Kesimpulan

Banyak organisasi sedang merampingkan tim. Fakta itu tidak perlu disamarkan. AI bukan satu-satunya penyebab, tetapi AI membuat perusahaan semakin sulit membenarkan pekerjaan rutin, koordinasi manual, dan lapisan keputusan yang terlalu panjang.

Smart agency akan memiliki lebih sedikit orang, lebih sedikit perantara, dan lebih banyak tanggung jawab per individu. Orang yang bertahan bukan sekadar orang yang bisa memakai alat, tetapi orang yang menguasai fundamental dan mampu mengambil keputusan dengan alat tersebut.

Masa depan agency bukan tim besar yang bergerak lambat. Masa depannya adalah tim kecil yang tajam, terintegrasi, dan bertanggung jawab.

FAQ

Apakah smart agency memang membutuhkan lebih sedikit karyawan?

Ya, untuk banyak jenis pekerjaan agency. AI, otomasi, dan sistem kerja yang baik mengurangi kebutuhan terhadap eksekusi rutin dan lapisan koordinasi. Jumlah tepatnya tetap bergantung pada volume, kompleksitas, risiko, dan standar layanan.

Apakah AI menjadi penyebab utama PHK?

Tidak selalu. Data menunjukkan PHK juga dipengaruhi kondisi ekonomi, penutupan, restrukturisasi, perubahan strategi, dan kebijakan. Namun, AI ikut mempercepat evaluasi terhadap pekerjaan yang repetitif dan struktur organisasi yang terlalu besar.

Apakah satu orang dengan AI dapat menggantikan beberapa orang?

Pada alur kerja tertentu, ya. Satu profesional berpengalaman dapat mengambil cakupan kerja yang sebelumnya dibagi kepada beberapa eksekutor. Namun, ini hanya aman jika orang tersebut memiliki kompetensi, otoritas, kapasitas, dan sistem kontrol kualitas yang memadai.

Siapa yang tetap dibutuhkan dalam smart agency?

Orang yang mampu merumuskan masalah, memahami bisnis dan brand, membuat keputusan, menilai kualitas, berkomunikasi dengan klien, serta bertanggung jawab atas hasil. Kemampuan memakai AI tanpa fundamental tidak cukup.

Sumber

  1. International Labour Organization, Generative AI and Jobs: A Refined Global Index of Occupational Exposure, 20 Mei 2025.
  2. Erik Brynjolfsson, Danielle Li, dan Lindsey R. Raymond, Generative AI at Work, NBER Working Paper 31161, diterbitkan di The Quarterly Journal of Economics pada 2025.
  3. Challenger, Gray & Christmas, 2025 Year End Challenger Report, 8 Januari 2026.
  4. World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025, Januari 2025.
  5. Fabrizio Dell'Acqua dan rekan, The Cybernetic Teammate, NBER Working Paper 33641, 2025.
  6. National Institute of Standards and Technology, Artificial Intelligence Risk Management Framework: Generative Artificial Intelligence Profile, 2024.